Arsip Berita

Juni 14, 2021

SEPATAH.COM

INFO TERKINI & TERPOPULER DARI PENJURU INDONESIA

Saatnya Pemerintah Memaksimalkan Bahan Obat Herbal

3 min read
Pandemi Covid-19 telah memberikan pelajaran yang sangat banyak bagi masyarakat dunia, terutama bangsa Indonesia. Hal ini dirasakan sektor kesehatan yang benar-benar terpukul dan perlu segera dilakukan reformasi sistem peringatan dini dan penanganan terhadap penyakit menular yang bisa menimbulkan pandemi seperti Covid-19 ini.
obat herbal

Obat herbal Indonesia justru lebih banyak diekspor.

JAKARTA – Pandemi Covid-19 telah memberikan pelajaran yang sangat banyak bagi masyarakat dunia, terutama bangsa Indonesia. Hal ini dirasakan sektor kesehatan yang benar-benar terpukul dan perlu segera dilakukan reformasi sistem peringatan dini dan penanganan terhadap penyakit menular yang bisa menimbulkan pandemi seperti Covid-19 ini.

Kondisi itu masih ditambah teknologi farmasi di Indonesia masih lemah. Ujungnya produksi farmasi di negara ini juga masih sangat kurang untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri.

Presiden Joko Widodo bahkan sudah memperingatkan kepada seluruh jajaran untuk memperhatikan masalah ini. Jokowi menilai salah satu pelajaran yang diberikan pandemi Covid-19 kepada Indonesia adalah pentingnya mereformasi sistem farmasi berupa peracikan obat.

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu juga berharap bahan baku obat tidak lagi bergantung pada impor. Ini yang paling penting.

Sayangnya hingga kini Indonesia masih mengimpor bahan baku obat dari berbagai negara hingga 90 persen. Padahal, Indonesia yang luas sangat kaya dengan ragam hayati yang bisa menjadi bahan baku obat. Namun sepertinya itu belum dimanfaatkan oleh bangsa ini.

“Kita tahu bahwa sekitar 90 persen obat dan bahan baku obat masih mengandalkan impor. Padahal, negara kita sangat kaya dengan keberagaman hayati baik di daratan maupun di lautan,” kata Jokowi saat membuka Rakernas Tahunan Ikatan Apoteker Indonesia, Kamis (5/11/2020).

Ketergantungan pada impor ini, akhirnya, membuat Indonesia melakukan pemborosan devisa negara. Selain itu juga tidak mandiri dalam pengadaan obat dan kesehatan. Terbukti, vaksin Covid-19 negara ini harus mengimpor dari berbagai negara. Sementara vaksin Merah Putih, produksi dalam negeri,  belum dinyatakan siap untuk digunakan.

Di samping tak mandiri, impor bahan baku obat dan obat-obatan membuat menyebut defisit neraca transaksi pun bertambah. Ini membuat cadangan dana yang seharusnya bisa dipakai untuk persiapan vaksin produksi lokal ikut menurun. Ajakan  Jokowi agar apoteker dan ahli kimia untuk lebih mandiri tentu sangat wajar.

Obat Herbal

Ironisnya, Indonesia yang kaya akan keragaman hayati saat ini menjadi salah satu pengekspor bahan obat herbal yang cukup besar. Ini menandakan jika obat herbal yang ada di dalam negeri tidak dapat dimaksimalkan menjadi bahan obat-obatan yang popular di tengah masyarakat.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita pernah menyampaikan bahwa sebenarnya potensi bagi industri farmasi khususnya obat herbal di Tanah Air sangat baik dan produksi juga tinggi. Pada saat pandemi Covid-19 melanda global, bahkan industri farmasi berbasis herbal ini menikmati penjualan bahkan ekspor yang sangat bagus.

Obat herbal Indonesia belum dimaksimalkan.

Industri obat herbal sendiri juga menikmati stimulus dari pemerintah dalam meningkatkan kebutuhan obat-obatan di tengah pandemi.

“Indonesia punya kekuatan khususnya industri farmasi, kita bisa mendorong obat-obatan atau vitamin yang basisnya herbal (Obat Modern Asli Indonesia/OMAI). Catatan terkait industri Farmasi dan Alat Kesehatan (Alkes), ini adalah sebuah momentum,” ujarnya Senin (20/4/20).

Pada awal pandemi Covid-19 yang melanda Cina, salah satu perusahaan nasional Indonesia memproduksi dan mengekspor obat herbal ke China secara masif. Hal ini seiring dengan mudahnya bahan baku herbal yang ada di Indonesia.

Di saat pandemi melanda dalam negeri, industri obat herbal bisa melakukan hal serupa yakni mampu mendorong produksinya terutama seiring permintaan yang tinggi akan obat-obatan herbal di dalam negeri.

Hal ini dirasa juga menjawab tantangan industri farmasi nasional saat ini, yang kesulitan memperoleh bahan baku untuk produk obat-obatan (non herbal) yang 90 persennya diimpor.

Tentu diharapkan industri obat kimiawi atau non herbal dan vitamin di Indonesia bisa bertumbuh seperti industri obat herbal. Bahkan jika memungkinkan, Indonesia harus berani untuk fokus memproduksi obat herbal. Apalagi jika dirasakan sulit bersaing dengan produsen dari luar negeri dalam hal produk non herbal dan vitamin.

Ini mungkin jalan tengah yang harus diambil pemerintah, untuk lebih memperhatikan obat herbal yang sebenarnya juga tak kalah dibandingkan dengan obat non herbal dalam mengatasi penyakit.

Lewat pengembangan yang lebih maju, dengan fasilitas laboratorium yang komplet dan baik, bukan tidak mungkin negara ini bisa mengembangkan obat herbal agar lebih manjur.  

Kesempatan untuk lebih mempopulerkan obat herbal pada saat pandemi Covid-19 ini sangat terbuka. Kemauan dan kerja keras yang dibarengi dengan promosi yang baik, akan membuat obat herbal lebih diminati masyarakat.

Jika obat herbal ini sukses, maka bisa menjawab kesulitan pemerintah saat ini yang 90 persen harus mengimpor bahan obat-obatan dari luar negeri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright sepatah.com © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.