Arsip Berita

September 26, 2021

SEPATAH.COM

INFO TERKINI & TERPOPULER DARI PENJURU INDONESIA

Jalan Terjal Pemerintah dalam Menuntun Rakyat Terlepas dari Pandemi

3 min read

Menko Perekonomian dan Ketua KPCPEN Airlangga Hartarto, sudah tunjukkan kerja keras tangani pandemi dan pulihkan ekonomi.

JAKARTA—Kasus COVID-19 yang terus melonjak di Tanah Air, tak dipungkiri disebabkan adanya varian delta yang menyebar. Varian ini dikenal sangat ganas, karena cepat menular. Penyebaran itu pula yang membuat penambahan kasus di Indonesia kini mencapai di atas  40 ribu kasus per hari.

Pertambahan kasus yang cepat ini sudah ditangani dengan adanya PPKM Darurat yang kini berubah menjadi PPKM Level 1 hingga 4.  Lewat Pengklasifikasian itu, pemerintah memiliki data yang tepat  untuk bisa memberikan penanganan yang tepat pula. Mulai dari stok oksigen, ketersediaan fasilitas kesehatan, obatan-obatan hingga dukungan makanan dan vitamin lainnya.

Dalam  penanganan COVID-19 Indonesia bisa termasuk dikatakan negara yang cukup sukses dalam menahan laju penyebaran. Dari data Worldometers, Kamis (22/7/2021),  Indonesia masih menempati negara urutan ke=14, dalam jumlah kasus sebanyak 3,6 juta kasus.  Dalam jumlah  kematian Indonesia berada di urutan ke-15 dengan jumlah kematian 79 ribu jiwa.  Untuk angka kesembuhan sendiri, Indonesia cukup baik. Data menunjukkan terdapat 2,4 juta angka kesembuhan di Indonesia.

Dilihat dari total kasus per satu juta orang, Indonesia tergolong dapat dikendalikan, karena hanya terdapat 10.9868 kasus per satu juta orang. Ini menempatkan Indonesia berada di urutan ke 133. Sementara untuk total kematian per satu juta orang, Indonesia berada di posisi 110, atau 286 kematian per satu juta orang. Populasi Indonesia   sendiri diperkirakan saat ini mencapai 276 juta jiwa.

Harus diakui, jika satu angka kematian saja merupakan pukulan berat bagi negara mana pun. Akan tetapi keberhasilan KPCPEN dalam menekan angka kematian dan meningkatkan angka kesembuhan adalah salah satu usaha yang patut diapresiasi.

Selain itu, Indonesia menjadi salah satu negara dengan program vaksinasi yang sukses. Indonesia sejauh ini berhasil menunjukkan langkah tegasnya dengan mempercepat dan memaksimalkan program vaksinasi nasional sebagai upaya mengakhiri pandemi Covid-19 di dalam negeri.

Menurut keterangan Menko Perekonomian yang juga Ketua Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Airlangga Hartarto, Indonesia menjadi negara urutan ke-2 yang terbanyak penduduknya yang sudah mendapat vaksinasi Covid-19.

“Untuk negara yang belum bisa memproduksi vaksin sendiri, Indonesia sudah termasuk advance dalam melaksanakan vaksinasi Covid-19. Tantangannya menjangkau kelompok-kelompok rentan,” ungkap Airlangga Hartarto, dalam dialog khusus KPCPEN bersama para pakar, beberapa waktu lalu.

Pernyataan Airlangga Hartarto diamini Guru Besar Mikrobiologi Klinik Universitas Indonesia, Prof. Pratiwi Pudjilestari Sudarmono. Dijelaskannya, kalau pun ada kendala di lapangan,  itu terjadi karena soal penyampaian informasi.

Menurut Pratiwi, kelompok masyarakat demikian lebih sering menerima efek samping vaksin yang dianggap menakutkan.  “Untuk itu kita bisa berikan penerangan. Bagaimana vaksin bekerja, bagaimana vaksin efektif menghambat infeksi terjadi dan juga mencegah transmisi terjadi dan akhirnya mengurangi jumlah pasien,” katanya.

Selain soal komunikasi, suksesnya program gerakan vaksinasi nasional juga bergantung pada ketersediaan dan distribusi vaksin agar dapat menjangkau lebih banyak masyarakat, terutama untuk memenuhi target 1 juta vaksinasi per hari.

Kekurangannya,  tentunya impor yang sudah jadi dari AstraZeneca, juga tambahan dari program Gotong Royong dari Sinopharm.

Saat ini, Indonesia telah mendapat pasokan 11,7 juta vaksin tambahan untuk vaksinasi tahap ke-2. Menurut Kementerian Kesehatan, pemerintah tahun ini menargetkan pengamanan 340,5 juta dosis vaksin dari empat merek, yakni Sinovac (125,5 juta), AstraZeneca (59 juta), Novavax (52 juta), dan Pfizer (50 juta). Sementara vaksin yang berasal dari inisiatif bantuan Covax sekitar 54 juta.

Sampai dengan kuartal I-2022, diharapkan ada tambahan 86,3 juta dosis vaksin dari kelima produsen tersebut. Dengan demikian, pada periode tersebut diharapkan terkumpul 426,8 juta dosis vaksin untuk diberikan kepada 260 juta penduduk Indonesia.

Dari berbagai langkah yang dilakukan, Indonesia menuai pujian dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai negara Asia ke-2 yang berhasil menjalankan program vaksinasi sebagai upaya meredam persebaran Covid-19.

Penanganan pandemi ini juga tak bisa dilepaskan dari sisi pemulihan ekonomi. Harus diakui dampak pandemi telah menurunkan peringkat Indonesia dari negara berpendapatan menengah  atas turun ke negara dengan pendapat menengah bawah. Oleh karena itu pemulihan ekonomi harus dilakukan bersamaan dengan kesehatan.

Keseimbangan harus selalu dijaga agar keduanya berjalan bersamaan, kesehatan dan ekonomi.  Mereka yang selama ini berpandangan kesehatan menjadi yang utama, memang tidak salah. Namun jangan pula membiarkan masyarakat kehilangan sumber penghidupannya untuk makan sehari-hari karena ekonomi harus dihentikan secara total.

Sampai saat ini  berbagai program bantuan sosial, bantuan langsung tunai sudah dikeluarkan. Begitu pula dengan  program kebijakan ekonomi yang merangsang industri untuk tetap tumbuh juga ada. Pemerintah  juga sudah membuat program agar daya beli masyarakat tetap terjaga. Ini sangat penting agar kelompok masyarakat di lapisan bawah dan UMKM terus berputar produksinya.

Atas dasar itu sangat disayangkan jika ada yang masih menyebut jika kinerja KPCPEN tidak optimal. Penanganan pandemi Covid-19 oleh KPCPEN sudah maksimal dilakukan sehingga secara umum berhasil meminimalisasi angka kematian nasional.

Terapkan disiplin protokol kesehatan dengan ketat, adalah satu-satunya jalan untuk mengatasi pandemi. Hal serupa tak hanya berlaku di Indonesia namun juga di seluruh dunia. Bahkan pesan untuk menjaga protokol kesehatan ini masih menjadi satu-satu jalan aman yang disarankan WHO agar semua orang terhindar daro COVID-19.

Dalam kondisi seperti sekarang, yang diperlukan bukan menghakimi siapa yang salah. Indonesia membutuhkan persatuan untuk bersama bangkit. “Bersatu dan sehat. Insya Allah, bangsa kita bangkit, sejahtera, dan barokah,” ucap Airlangga dalam pesan hari raya Idul Adha lalu.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright sepatah.com © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.