Realisasi Penerapan Program B20 Capai 95 Persen

djoko siswanto

djoko siswanto, kementerian esdm,

Kabar gembira datang dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Menurut Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Djoko Siswanto, realisasi kebijakan biodiesel 20  persen (program B20) sampai akhir Oktober 2018 sudah mencapai sebesar 95 persen.

Djoko menyatakan angka ini jauh lebih besar dibanding penyerapan September 2018 hanya sebesar 85 persen. Selain itu Djoko juga menegaskan jika penyerapan Program B20 yang hampir mencapai 100 persen ini mendukung penekanan impor minyak pemerintah. Namun, Djoko enggan menyebutkan berapa besar volume tersebut.

“Volumenya berapa belum dihitung lagi. Ada sih tadi angkanya tapi saya lupa, sebutin persennya saja, otomatis kalau terserap impornya juga berkurang,” papar Djoko di Kementerian ESDM, Senin (5/11).

Sementara itu Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Rida Mulyana, menuturkan, realisasi penyerapan biodiesel sampai kuartal III 2018 sudah mencapai 2,53 juta Kilo liter (Kl) dari target tahun ini sebesar 3,92 juta KL.

Rida mengakui, implementasi B20 ini belum optimal ataua mencapai 100 persen karena masih terkendala logistik. “Kami mengakui Program B20 belum optimal, tapi lebih baik, karena dari logistik. Sementara sisi produksi mencukupi,” tukas Rida.

Ketahanan Energi Lewat Program B20

September 2018 bisa dikatakan sebagai era baru untuk bidang energi di Indonesia. Pemerintah  berupaya mewujudkan ketahanan energi melalui diversifikasi Energi Baru dan Terbarukan (EBT), yakni penggunaan biodiesel 20 persen (B20). Salah satu harapan dari kehadiran B20 adalah upaya menekan impor minyak yang nantinya bisa menyehatkan postur neraca perdagangan dan ujungnya defisit transaksi berjalan di Tanah Air bisa mengecil dari waktu ke waktu.

Jika melihat situasi dan kondisi yang ada, Indonesia saat ini sudah tidak punya pilihan lain. Guna memenuhi kebutuhan energinya, Indonesia harus menggunakan energi terbarukan. Pasalnya, penggunaan energi yang berasal dari fosil lambat laun akan habis. Artinya, perlu ada upaya sejak dini untuk mencari alternatif energi lainnya. Hal ini penting agar perwujudan ketahanan energi bisa terlaksana. Tujuannya Indonesia tidak lagi bergantung dengan pihak asing untuk pemenuhan energi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *