Arsip Berita

Oktober 28, 2021

SEPATAH.COM

INFO TERKINI & TERPOPULER DARI PENJURU INDONESIA

Kerja Sama Masyarakat dan Pemerintah Cara Tepat Tepis  Pandemi

3 min read

Covid-19 tak pernah pandang usia, siapa saja bisa kena.

Jakarta – Dalam beberapa hari terakhir, kasus Covid-19 terus meningkat di Tanah Air. Bahkan kasus aktif di Indonesia sebesar 6,9 persen  kini telah melebihi rata-rata kasus aktif di dunia yang hanya sebesar 6,6 persen.

Data ini menjadi peringatan dan tanda bahaya bagi masyarakat dan pemerintah. Kekhawatiran bahkan sudah muncul lantaran bed occupancy rate di 88 kabupaten dan kota di Indonesia sudah berada di atas 70 persen. Sebuah batas yang dianggap sangat berbahaya.

Kondisi ini juga tercermin dari beberapa kota di Jawa Tengah, sudah mulai menipis persediaan tabung oksigen untuk merawat pasien Covid-19. Tenaga kesehatan pun sudah mulai kelelahan. Padahal perang panjang melawan pandemi ini belum memperlihatkan tanda-tanda akan membaik. Justru bertambah buruk.

Dalam tiga hari terakhir, bahkan penambahan kasus secara konstan berada di angka 20 ribuan kasus per hari. Hingga total di Indonesia sudah tercatat 2.053.995 kasus positif. Penambahan per hari itu memang masih belum menyamai rekor pada bulan Januari saat per hari Indonesia pernah terdapat 22.069 kasus. Akan tetapi penambahan ini sudah sangat mengkhawatirkan.

Dari data Worldometers, Jumat (25/6/2021), pada 25 Juni pukul 05.56 GMT terdapat 180.779.194 kasus dari seluruh dunia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 3.916.328 orang meninggal dunia karena Covid-19 dan 165.430.621 orang telah sembuh.

Amerika masih menempati posisi pertama negara dengan jumlah kasus terbanyak Covid-19, kemudian disusul India. Indonesia sendiri berada di urutan ke-17 untuk jumlah kasus positif total. Namun jika merujuk penambahan kasus yang terjadi pada Jumat itu, maka Indonesia kini menjadi negara ke-5 di dunia dengan jumlah penambahan kasus terbanyak.

Segenap upaya sudah dilakukan pemerintah untuk terus menangani kasus Covid-19 ini. Mulai dari pencegahan seperti melakukan PPKM Mikro, kampanye hidup sehat lewat 3M, 4M, dan 5M. Bahkan kini sudah muncul 6M (mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan, mengurangi mobilitas, menghindari makan bersama).

Ini adalah rumus pasti, jika seseorang ingin terhindar dari Covid-19. Selanjutnya  juga mengikuti program vaksinasi. Bahkan kini program itu sudah diikuti 36 juta orang yang memperoleh dosis pertama. Ini juga ditambah program vaksinasi sejuta perhari yang ditargetkan oleh KPCPEN, Juli nanti.

Di sisi lain, banyak pula pihak yang masih mempertanyakan efektivitas penerapan PPKM Mikro oleh pemerintah. Sebagian masyarakat, meminta agar pemerintah segera melakukan lockdown. Ini Ibarat menarik rem kencang, atau melakukan PSBB yang diperketat. Bahkan lebih ketat dari saat pandemi ini berjalan Maret 2020.

Polemik panjang sempat muncul. Seperti ada usaha saling menyalahkan dan saling membenturkan. Bahkan terkadang ada yang menariknya untuk kepentingan politik. Ini tentu sudah tidak wajar lagi. Musibah yang menimpa dunia ini seharusnya, menjadi tanggung jawab semua insan bersama.

Usaha mempertanyakan semua kebijakan pemerintah  tak perlu lagi muncul. Apalagi jika masyarakat Indonesia sendiri masih terlihat bebal untuk bisa menyadari kondisi memprihatinkan yang terjadi saat ini. Bahkan saat dihimbau untuk tak mudik, sejumlah orang malah menantang larangan itu.  Lucunya masih ada pula yang menyatakan musibah ini adalah sebuah konspirasi besar.

Masyarakat sebaiknya instropeksi lagi. Mereka harus melihat, berapa saudara, teman, atau kerabat mereka yang telah direngut oleh Covid-19? Berapa banyak anak-anak kehilangan ayah atau ibunya karena ganasnya Covid-19 ini?

Berapa kerugian yang harus didapat lantaran usaha, dagang dan industri yang terhenti karena Covid-19? Berapa banyak orang harus menganggur karena dampak Covid-19 ikut meratakan industri dan ekonomi nasional.

Tak perlu menjawab semua pertanyaan itu. Kesedihan hampir setiap hari terlihat. Mungkin bagi mereka yang tidak pernah bersinggungan langsung dengan Covid-19 tak pernah merasakannya. Namun kesedihan  itu ada.

Kini saatnya masyarakat untuk bisa menyadari bahaya besar  ini. Ada sebuah musibah yang menghadang di depan mata yang mereka harus benar-benar melihatnya dengan jernih dan penuh kesadaran.

Tanpa adanya kesadaran yang timbul, insyaf bersama, tentunya akan sulit untuk bisa mengerem laju penambahan kasus. Sekeras apa pun usaha pemerintah, jika masyarakat tak ikut serta secara pribadi untuk mematuhi protokol kesehatan, akan sulit pula musibah ini berakhir.

Kini masyarakat dan pemerintah harus bekerja sama dan bersama-sama bekerja untuk memerangi Covid-19 dari lingkungan terkecil. Lingkungan keluarga, harus dijaga agar tidak terpapar. Ikuti protokol kesehatan dan jangan hanya saling menyalahkan satu sama lain. Kita berada di langit yang sama dengan musibah yang dirasakan bersama-sama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright sepatah.com © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.