Harga CPO Tahun 2019 Diperkirakan Bakal Naik

CPO

Harga CPO tahun 2019 akan membaik.

Kalangan pebisnis kelapa sawit tampak lega selepas mengikuti konferensi minyak sawit di Bali, pekan ini. Harga komoditas unggulan ekspor Indonesia yang tengah mengalami anomali itu diperkirakan akan membaik tahun depan. Hal ini tentu berbeda dengan komoditas lain yang terkerek penguatan harga minyak mentah, harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) justru merosot.

Pada kondisi normal seharusnya harga minyak mentah (crude oil) yang terus menguat berkorelasi positif dengan minyak sawit. CPO juga bisa digunakan untuk bahan baku biofuel jenis biodiesel, sebagai campuran bahan bakar fosil jenis solar.

Setahun terakhir, harga minyak mentah Brent sudah melambung 26% ke level US$ 73 per barel, bahkan sempat menembus di atas US$ 80 per barel. Namun dalam kondisi seperti itu harga CPO justru merosot. Bahkan sempat  longsor di bawah US$ 600 per ton tahun ini. Jika pada Oktober 2017, CPO Malaysia yang menjadi referensi dunia masih bertengger di atas US$ 648 per ton, pada September 2018 tinggal US$ 524 per ton atau terpangkas 24%.

Salah satu penyebab utamanya adalah hambatan perdagangan dan kampanye negatif yang dilancarkan negara-negara Eropa dan sejumlah negara lain. Pasalnya, mereka beranggapan produktivitas minyak sawit yang sangat tinggi menjadi ancaman bagi produk minyak sayur negara mereka. Misalnya minyak kedelai, biji bunga matahari, dan rapeseed (kanola). Maklum produktivitas minyak sawit luar biasa, mencapai 5.830 liter per hektare setahun. Hasil ini, lima kali lipat lebih dibanding minyak kanola 1.073 liter per ha dan minyak bunga matahari 952 liter per ha, yang banyak diproduksi Eropa.

Dibandingkan dengan  minyak kedelai yang menjadi andalan Amerika Serikat, yang produktivitasnya hanya 446 liter per ha, tentu kelapa sawit jauh lebih unggul. Berbekal produktivitas 5-13 kali lipat dari minyak pangan yang lain, minyak sawit kini menguasai pasar dunia. Harga CPO hanya sekitar 70%-nya minyak rapeseed. Indonesia, produsen terbesar CPO dunia, sempat menjadi bulan-bulanan kampanye negatif oleh AS dan Eropa.

Kampanye Hitam Kelapa Sawit

Uni Eropa (UE) sempat pula menerbitkan resolusi untuk penghentian bertahap penggunaan CPO guna campuran biofuel hingga 2020. Bahkan selanjutnya mereka akan melarang total. Kebijakan ini maju dari jadwal semula 2030. Diskriminasi UE ini akhirnya dibatalkan, setelah Indonesia mengancam akan membalas dengan tidak mengimpor Airbus, pesawat unggulan Eropa. Sementara itu, India menaikkan bea masuk CPO Indonesia dari 30% menjadi 44% dan minyak sawit olahan dari 40% menjadi 54%.

Indonesia yang merupakan produsen CPO terbesar dunia sangat mengandalkan industri minyak sawit. Terutama  untuk menyumbang devisa ekspor, plus mendongkrak kesejahteraan jutaan petani. Dengan produksi 42 juta ton tahun ini, sekitar 80% produksi CPO kita menyasar pasar ekspor, bersaing dengan kompetitor utama Malaysia yang produksinya sekitar 20,5 juta ton.

Ekspor minyak sawit RI mencapai US$ 13,47 miliar periode Januari-Agustus 2018, terbesar kedua di sektor nonmigas, setelah batu bara yang meraih US$ 16,46 miliar. Berbeda dengan batu bara yang ekspornya melonjak 24,28% terkerek kenaikan harga minyak mentah, ekspor minyak sawit justru melorot 11,55% dibanding periode sama tahun lalu. Saat harga CPO turun, yang pertama kali terkena dampaknya adalah petani, karena harga tandan buah segar (TBS) sawit langsung anjlok.

Mandatori B20

Kini perluasan mandatori penggunaan biodiesel sawit untuk campuran solar di dalam negeri 20% (B20) harus diimplementasikan. Program ini akan menjadi penggerak utama harga CPO di pasar global. Ke depan stok CPO Indonesia bisa berkurang signifikan pada akhir 2019, sehingga bakal mendorong harga CPO menyentuh US$ 540-550 per ton.

Apalagi jika pemerintahan Presiden Joko Widodo bisa mempercepat implementasi B30 dari jadwal sebelumnya 2020 menjadi awal semester II-2019. Hal ini akan membuat, harga bisa terdongkrak ke level US$ 600-650 per ton tahun depan. Pasalnya, konsumsi biodiesel domestik dipastikan melonjak menjadi 5,50 juta kiloliter (kl). Akibatnya, sehingga stok minyak sawit yang kini berlebihan akan menyusut banyak. Stok CPO nasional sudah mencapai 4,59 juta ton pada Agustus 2018, dibanding akhir 2017 sebanyak 4,02 juta ton.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *