Pemerintah Apresiasi Kesuksesan Uji Co-Processing Green Gasoline

Pemerintah mengapresiasi PT Pertamina (Persero) yang telah berhasil melaksanakan pengujian co-processing di kilang Residue Fluidized Cracking Catalityc Unit (RFCCU) Refinery Unit (RU) III Plaju dengan injeksi Refined, Bleached, and Deodorized Palm Oil (RBDPO) hingga 7,5% on feed, dimana produk utama yang dihasilkan adalah green-gasoline, green-LPG dan green-propylene dalam persentase yang lebih kecil. Plant test dilaksanakan selama 7 hari operasi injeksi RBPDO menggunakan dana internal Pertamina.

“Sebuah capaian yang sangat membanggakan dimana Indonesia merupakan negara pertama di dunia yg berhasil melakukan co-processing green-gasoline untuk skala komersial” ungkap pakar katalis ITB, Prof. Subagjo saat menghadiri Peluncuran Implementasi Co-Processing CPO menjadi Green Gasoline dan Greel LPG di RFCCU RU III Plaju pada Jumat (21/12).   “Pembuktian teknologi co-processing di kilang Pertamina ini akan mengantarkan Indonesia pada era baru industri BBN yang  diharapkan ke depan mampu memproduksi secara komersial biohidrokarbon atau green-fuels,” tambah Andriah Feby Misna, Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (DItjen EBTKE) yang turut hadir pada acara tersebut.

Dari pengujian ini masih banyak penyempurnaan dan juga uji lebih lanjut yang harus dilakukan untuk memastikan spesifikasi dari produk, optimasi pencampuran dan hal-hal teknis lainnya serta kelayakan ekonomi untuk selanjutnya bisa discale-up untuk skala bisnis.

Co-processing merupakan salah satu opsi metode produksi green-fuel melalui proses pengolahan bahan baku minyak nabati dengan minyak bumi secara bersamaan menjadi green hydrocarbon (green-gasoline, green-diesel, atau bioavtur).  Green-fuel merupakan senyawa biohidrokarbon yang secara umum karakteristiknya sama dengan senyawa hidrokarbon berbasis fosil sehingga dapat dicampurkan pada tingkat persentase berapa saja tanpa perlu penyesuaian mesin kendaraan. Green-fuel ini merupakan pilihan yang baik untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar cair dalam negeri untuk mensubstitusi minyak mentah atau BBM dari produksi dalam negeri, disamping BBN jenis Biodiesel yang sudah berjalan secara komersial hingga pencampuran 20% (B20). Produksi green-fuel ini pada ujungnya terkait pula dengan upaya mengurangi tekanan neraca pembayaran negara atas impor minyak mentah. (esdm.go.id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *